Kamis, 07 Februari 2019

Literasi Buku Nonfiksi

 LITERASI BUKU FIKSI 
KELAS 7 SMP IT ISTANAMULIA
SEMESTER TA 2018/2019

A. Menemukan unsur unsur buku fiksi dan nonfiksi
B. Membuat peta pikiran/sinopsis tentang buku fiksi dan nonfiksi 
C. Menelaah hubungan unsur- unsur dalam buku fiksi dan nonfiksi


D. Menyajikan tanggapan terhadap buku fiksi/nonfiksi


Non-fiksi adalah klasifikasi untuk setiap karya informatif (seringkali berupa cerita) yang pengarangnya dengan itikad baik bertanggung jawab atas kebenaran atau akurasi dari peristiwa, orang, dan/atau informasi yang disajikan.[1] Sebuah karya yang pengarangnya mengklaim tanggung jawab kebenaran namun tidak jujur maka adalah suatu penipuan sastra; suatu cerita yang pengarangnya tidak mengklaim tanggung jawab kebenaran maka diklasifikasikan sebagai fiksi.[1] Non-fiksi, yang dapat disajikan baik secara obyektifmaupun subyektif, secara tradisional merupakan satu dari dua pembagian utama dari narasi (khususnya dalam penulisan prosa);[2] pembagian tradisional lainnya adalah fiksi, yang berkontras dengan non-fiksi dalam hal penyampaian informasi, peristiwa, dan karakter yang sebagian kecil atau besar merupakan hasil imajinasi.

Jenis non-fiksi

Contoh karya sastra yang termasuk non-fiksi antara lain adalah jenis karangan eksposisi, argumentasi, fungsional, dan opini; esai mengenai seni atau sastra; biografi; memoar; jurnalisme; serta tulisan-tulisan sejarah, ilmiah, teknis (termasuk elektronika), atau ekonomi.[3]
Penerbitan dan toko buku kadang-kadang menggunakan frase "sastra non-fiksi" untuk membedakan karya yang lebih banyak muatan kesusastraan atau intelektualnya, dengan koleksi karya non-fiksi umum lainnya yang jumlahnya lebih besar.[4]

Perbedaan

Batasan antara fiksi dan non-fiksi secara terus-menerus mengabur dan selalu diperdebatkan, khususnya dalam penulisan biografi; [5] sebagaimana perkataan Virginia Woolf: "jika kita berpikir tentang kebenaran sebagai sesuatu yang soliditasnya seperti granit, dan tentang kepribadian sebagai sesuatu yang penggambarannya seperti pelangi, dan merenungkan bahwa tujuan dari biografi adalah untuk menyatukan keduanya menjadi suatu kesatuan yang mulus; kita akan mengakui bahwa masalah yang dihadapi adalah sulit dan bahwa kita tidak perlu heran jika para penulis biografi sebagian besar tidak dapat mengatasinya."[6]
Semi-fiksi adalah fiksi yang menerapkan banyak informasi non-fiksi,[7] misalnya penggambaran fiktif yang berdasarkan kisah nyata.

Jenis non-fiksi khusus

  • Makalah akademik
  • Penerbitan akademik
  • Almanak
  • Otobiografi
  • Biografi
  • Cetak biru
  • Laporan buku
  • Non-fiksi kreatif
  • Dokumen desain
  • Diagram
  • Buku harian
  • Kamus
  • Film non-fiksi (misalnya dokumenter)
  • Ensiklopedia
  • Esai
  • Panduan dan manual
  • Buku pedoman
  • Sejarah
  • Jurnal
  • Jurnalisme
  • Surat
  • Kritik sastra
  • Memoar
  • Sejarah alam
  • Filsafat
  • Fotografi
  • Sains populer
  • Bantu mandiri
  • Buku ilmiah
  • Makalah ilmiah
  • Statuta
  • Penulisan teknis
  • Buku teks
  • Tesaurus
  • Travelog
  • Menulis
struktur atau unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah tulisan artikel.

1. Ide/Topik/Tema

Apa yang ingin kau tuliskan? Itulah idenya. Ide adalah “pokok hal” atau “pokok permasalahan” yang akan kau teliti dan tuliskan. Semakin tsakep idemu, semakin kerenlah tulisanmu. Karena itu, tulislah hanya ide-ide yang tsakep. Ciri ketsakepan sebuah ide ialah “aktual, bergreget, penting, memantik rasa ingin tahu pembaca”.

Misal. Sekarang lagi ramai tentang sosok Jokowi dan Prabowo sebagai calon presiden. Apa yang ingin kau tuliskan tentang mereka?

Lalu kau munculkan ide berdasar “pokok permasalahan”.

Jokowi atau Prabowokah Sang Pembasmi Koruptor?
Modal Militer Prabowo untuk Libas Korupsi
Watak Kesederhanaan Jokowi Ditakuti Para Koruptor

Ya, itu hanya beberapa contoh. Di dalamnya, ada pokok permasalahan yang akan kau teliti dan tuliskan, yakni “presiden dan pemberantasan korupsi”.

Lain lagi dengan ide yang berbasis “pokok hal”. Ide sejenis ini tidak berbasis “masalah”, tapi bersifat pengetahuan atau motivasi.

Misalnya:
Pentingnya Tahajjud untuk Mengundang Jodohmu
Bahagia Itu Sederhana, Santai Sajalah….
Agresi Israel ke Tanah Palestina
Korupsi dalam Kacamata Islam
Saat Kodifikasi Agama Jadi Kiblat
Pacaran itu Haram atau Tidak, Ya?

Mungkin, kalian yang tsakep akan bertanya di sini, lalu apa bedanya ide dengan judul?

Sering pula ide itu disebut topik atau tema lho. Pada intinya, ia adalah hal yang ingin kau teliti dan tuliskan. Otomatis, judul pun akan sesuai dengan ide itu, bukan? *Iya aja deh….*

Tentu nggak asyik jika topikmu, temamu, idemu tentang “korupsi adalah bagian dari kekufuran”, tapi judulmu ternyata nggak mencerminkan itu sama sekali. Maka, gampangnya, judul yang kau pilih kemudian boleh sama atau berbeda dengan idemu, asalkan tetap mewakili, mencerminkan idemu.

2. Data

Setelah dapat ide, kau harus kumpulin data. Bagus lagi, ide yang akan kau tuliskan sudah kau kuasai data dan keilmuannya. Sudah mendalami dan menguasainya.
Data yang kau pilih haruslah data yang akurat. Jangan data abal-abal tidak jelas juntrungnya.
Ciri data yang akurat itu ialah ilmiah, yang bisa dibuktikan dengan memiliki sumber rujukan yang jelas. Haram hukumnya menggunakan rujukan semaca “menurut sebuah penelitian” atau “katanya” atau “konon” atau…. Harus jelas menurut siapanya.
Bukankah mendapatkan kepastian itu sangat penting? Haaaa….

Misal kau dapat data dari sebuah buku atau artikel atau situs yang terpercaya (tentang situs-situs ini bertelitilah ya, sebab banyak sekali situs yang hanya bersifat propaganda, sama sekali tidak ilmiah). Ciri lainnya ialah ia banyak dikutip atau dipakai orang.

Ciri sebuah data patut diragukan keilmiahannya ialah “sensitif konflik” (ini jangan disamain dengan istilah polemik atau ikhtilaf ya). Hari gini, jangan mudah terprovokasi oleh “ke-wah-an” sebuah tulisan yang kesannya menggelegar. Lebih baik cari saja sumber-sumber data yang kredibel, lazim, popular, dan terpercaya.

Oh ya, saya tandaskan satu hal lagi di sini, bahwa ilmiah bukan berarti lalu tidak ditentang orang lho ya (sedunia setuju gitu). Yang terpenting ialah data yang kau kutip ialah data yang jelas sumbernya dan sumber itu sendiri (usahakan) tidak diragukan kapasitasnya.

Lantas, data yang kau ambil tidak perlulah sekarung gitu. Ambil data yang kau butuhkan saja sebagai penopang keilmiahan tulisanmu.

Ada data yang disebut data primer dan sekunder. Nah, data primer inilah yang harus kau pegang. Soal data sekunder sifatnya pelengkap dan penambahan belaka.

Data primer ialah data yang berkaitan langsung dengan ide yang akan kau tuliskan dan bersifat teori atau data besar. Jika tentang korupsi di Indonesia, sebutlah itu data berdasar KPK. Data sekundernya misal tentang ketidakadilan pembangunan di Indonesia Timur.

Dalam dunia akademik, data primer yang paling dihormati ialah buku, lalu jurnal, lalu media massa, lalu sumber online. Tapi dalam tulisan artikel, peta ini lebih longgar sih.

3. Pembukaan

Setiap artikel tentu harus memiliki bagian pembukaan dulu. Ia menjadi semacam pengantar terhadap ide yang akan kau ulas. Mau sekadar satu atau dua paragraf, ia harus ada.

Bentuk pembukaan yang keren ialah merangsang pembaca untuk melanjutkan membacanya. Ya, setelah judul yang bergreget, pastikan kalimat-kalimat pembukamu juga bertaji ya. Ia bisa dikemas dalam bentuk kutipan atau pertanyaan atau “provokasi” bahkan, dll.

Misal yang berbentuk kutipan:

Nyaris separuh penghuni bumi Indonesia ini masih didera kemiskinan, dan itu merupakan buah haram korupsi. Begitulah data riset terbaru yang dikeluarkan oleh LSM Belum Sempat Korupsi Juga (2014). *contoohhhhhh….

Bentuk pertanyaan:

Mau tahu berapa juta di tahun 2014 ini anak-anak Indonesia yang tidak tersingkir dari bangku sekolah hanya karena kemiskinan? Ya, kemiskinan yang ditebar oleh tangan-tangan kejam koruptor.

Apa benar pacaran itu haram sepenuhnya, tanpa pengecualiaan sedikit pun? Apa lantas juga berarti benar bahwa semua pelaku pacaran itu adalah para muslim sesat, sebagaimana dipekikkan oleh para pengusung fiqh serba subhanallah dan anti dialog itu? *ngoaahhaa…

Bentuk “provokasi”:

Inginkah Anda menjadi satu dari jutaan orang yang berdiam diri menyaksikan pemerkosaan-pemerkosaan terus menayang di depan mata? Masihkah Anda bertahan hati untuk duduk manis menyaksikan kenyataan kian maraknya kekejaman seksual, yang sebagiannya mulai mendera anak-anak tak berdosa itu?

Ya, ya, banyak lagi contoh model lainnya. Intinya, pembukaan haruslah menarik, memikat, dan “memaksa” pembacamu untuk melanjutkan membaca tulisanmu, bukan malah melipat, angop ngantuk, lalu lelap berbantal tulisanmu. Kalau sampai terjadi yang kedua ini, pertanda tulisanmu sukses menjadi pengantar tidur.

4. Analisa sistematis

Data yang sudah kau kumpulin selanjutnya harus kau kuasai sekaitan dengan idemu tadi. Inilah proses analisa.

Analisamu haruslah berjalan secara sistematis. Runut. Jangan lompat-lompat ke sana-sini  tidak runtut. Sistematika adalah cerminan cara berpikirmu. State of mind-mu.
Dari bagian pembukaan, analisa, sampai penutup, harus kau jalinkan secara runtut, saling menunjang dan mendukung. Kagak lucu bingiiittt jika analisamu nggak sesuai dengan kesimpulanmu.

Itu sama persis dengan kau berkata, “Aku sayang kamu,” padahal kau tak pernah bertemu dengannya kecuali di sosmed dan BBM sehingga kau tidak pernah bisa menyediakan bahumu secara nyata untuk jadi sandarannya. Sayang macam apa coba yang begitu? Jawab….!!! Eaaakkkk…..haaaa….

Ya, sistematiskanlah cara berpikirmu, runtutkanlah, mengalir teratur, runut, agar analisamu tersaji dengan jernih dan enak.

Saran tambahan, buatlah kerangka tulisan untuk membantumu meruntutkan analisasmu. Misal, di bagian pembukaan, poin-poin apa yang ingin kau sajikan. Lalu di bagian pembahasan, kau kutip sebuah teori, dilanjutkan dengan data-data lapangan, dan dilanjutkan lagi dengan pendapatmu pribadi. Di bagian kesimpulan, kau tegaskan inti dari semua analisamu itu.

Ya, buat corat-coret saja seputar plot tulisanmu itu mau kayak apa. Ini pasti sangat membantu membuatmu fokus dan sistematis.

5. Kesimpulan

Tentu, artikel harus ada kesimpulannya. Kesimpulan di sini tidak melulu harus berupa solusi lho ya. Ia bisa bersifat penegasan teori, atau data lapangan, atau motivasi tertentu terkait ide tulisanmu.

Misal, idemu tentang “korupsi itu adalah salah satu bentuk kekufuran”. Maka kau bisa memungkasi tulisanmu dengan kesimpulan begini:

Sudah jelas sekali berdasar tuturan Sayyid Sabiq di atas, bahwa kafir bukan semata tentang ingkar tauhid. Berbuat kerusakan di muka bumi juga merupakan bentuk praktik kekafiran. Dan tentu saja, korupsi adalah salah satu bagiannya. Jadi, masihkan Anda mau korupsi?

Begitu juga bisa, kan?

Bisa pula kau akhiri kesimpulan artikelmu dengan sebuah quote atau puisi bahkan. Yang terpenting, apa pun itu, kudulah selaras dengan bagian analisamu tadi. Misal:

Rasanya, cukup telak untuk menandaskan ucapan bijak Einstein di sini bahwa “Ilmu tanpa agama hanya akan menjadi kebutaan dan agama tanpa ilmu hanya akan menjadi kelumpuhan.”

Banyak caranya, kan? Prinsipnya, kesimpulanmu harus selaras dengan analisamu.
Contoh Cerita Non Fiksi.


Karangan Non Fiksi My Bike Brings Me To Future - berbagaireviews.com


"My Bike Brings Me To Future ".

Masa kanak-kanak adalah masa dimana kita mulai belajar tentang kehidupan ini termasuk belajar bersepeda. Aku masih berusia 4 tahun ketika belajar bersepeda. Satu dua tiga ku kayuh sepeda kecilku itu tanpa rasa takut. Keceriaan dapat mengayuh sepeda untuk pertama kalinya membuatku tak melihat ada batu besar di depan sepedaku. Akibatnya aku terjatuh dari sepedaku dan darah keluar dari dagu bagian kananku. Aku tidak menangis karena rasa sakit daguku yang menghantam rem sepeda sampai membentuk cekungan tetapi aku menangis karena aku melihat banyak darah keluar dari sana dan kejadian itu tidak pernah menyurutkan tekadku untuk belajar bersepeda.

Tekadku untuk bersepeda tetap teguh sampai aku beranjak remaja. Ku kayuh sepeda pemberian ibuku menuju SMP N 3 Purworejo yang berjarak 10 km dari rumahku. Meskipun keringat membasahi seluruh tubuhku, aku tak pernah lelah mengayuh. Ku kayuh terus sepedaku melewati jalanan terjal, berliku, dan menanjak. Aku tak pernah mengeluh dan aku tidak pernah meminta untuk mengganti sepedaku dengan kendaraan bermotor karena sepeda mengajarkanku arti sebuah usaha, usaha untuk mencapai kesuksesan. Sepedaku pula yang mengantarkanku pada teman-teman terbaikku hingga aku beranjak SMA.

SMA dengan siswa-siswi yang penuh gengsi dan prestise tidak mempengaruhiku untuk berhenti bersepeda. Meski sepedaku mulai usang, tak apa bagiku untuk memakainya ke sekolah. Selain baik untuk kesehatan, setidaknya bersepeda bisa mengurangi emisi CO2 dan mengurangi biaya untuk beli bensin kan? Pemikiran-pemikiran seperti itu yang selalu aku tanamkan jika aku mulai goyah untuk tetap bersepeda. Selain itu sepeda selalu menemaniku kemana pun dan dengan siapa pun aku pergi termasuk dengan sahabatku, Rina. Setiap pulang dari sekolah, kami selalu melakukan touring kecil menggunakan sepedaku itu, entah hanya main ke bukit belakang sekolah ataupun hunting jajanan di alun-alun kota. Sampai kelulusan SMA dan sekarang pun sepedaku sangat berarti bagiku karena my bike brings me to future.

Friendship atau persahabatan adalah sesuatu hal yang penting di dalam hidup ini. Bukankah lebih baik hanya memilki satu teman tetapi tidak punya musuh daripada punya banyak teman tapi punya satu musuh. Gak gitu juga sih. Terkadang kita juga membutuhkan musuh agar hidup lebih berwarna tapi jangan banyak-banyak juga. Sudahlah lupakan soal itu. Sebenarnya disini aku ingin sedikit bercerita bgaaimana sih kita dapat melihat sahabat-sahabat kita.

Aku benar-benar baru merasakan arti penting sahabat baru-baru ini. Yah mungkin dulu aku menganggap sahabat hanya untuk di kala senang dan bercanda tawa, bersenang riang dan juga sebagai tempat saling curhat berbagai masalah. Just it. Dan aku benar-benar baru merasakan rasanya perhatian dan kasih sayang dari sahabat-sahabatku di sini.

Aku perkenalkan satu per satu yaaa. Yang pertama ada Fitria Slameut. Sebelumnya aku pengen minta maaf dulu ke Fitria soalnya pernah salah menyebut namanya di depan umum waktu presentasi PKM. Maaf ya Pit. Waktu aku sakit, Fitrialah yang paling menjaga asupan giziku serta mengatur waktu minum obatku. Padahal Fitria sebelumnya jarang masak tapi demi aku dia rela-relain masak tiap hari. Pokoknya dari nasi hingga sayur yang akan aku makan sehari itu disiapin sendiri oleh Fitria. Aku sangat terharu ketika Fitria merelakan waktunya yang seharusnya ia bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga ia justru gunakan untuk merawatku. Aku benar-benar merasa sedih melihat kontrakan yang semakin sepi tetapi Fitria tetap bersedia menemaniku. Bahkan ketika aku ada pengganti UP Penkom, dia bersedia mengantarku dan menemaniku hingga ternyata akhirnya UP Penkom diundur 1 hari. Di saat penantian keputusan tersebut aku menangis, bukan karena UP yang dibatalkan tetapi karena aku merasa bersalah kepada  Fitria yang sudah menunggu lama untuk menemaniku UP ternyata akhirnya tidak dilaksanakan. Tubuhku sangat lemah, aku menjadi tidak nafsu makan tetapi Fitria selalu sabar dan bertanya kepadaku apa yang aku mau. Saat itu aku hanya ingin makan buah pisang dan segera setelah aku berkata demikian, Fitria langsung membelikakanku buah pisang. 

Aku semakin merasa sedih dan bersalah, makanya aku menitikkan air mata di ruang BEM A waktu itu. Yang terakhir ketika Fitria mengantarkanku pergi ke terminal. Aku masih sangat ingat ketika Fitria bercerita bagaimana ia pulang ke rumahnya di Cianjur. Aku ingat sekali Fitria mengatakan bahwa ia kalau pulang melalui jalan baru. Kemudian di jalan baru itulah ia menunggu bis yang menuju Puncak Cianjur. Aku ingat sekali perkataan itu tetapi Fitria menyangkal kalau ia pulang lewat jalan baru. Ia hanya mengaku bahwa kalau ia pulang ia harus ke baranangsiang dahulu. Aku tahu ia berbohong. Ia sengaja seperti itu agar ia dapat menemaniku hingga aku masuk ke dalam bis yang aku tumpangi sampai ke rumah. Aku kembali merasa sedih dan bersalah kepadanya. Seharusnya ia bisa sampai rumah lebih awal jika ia tidak menemaniku hingga aku duduk di dalam bisku. Tapi seperti biasa ia tetap memilih untuk menemaniku. Terima kasih banyak sahabatku. Aku tak tahu harus bagaimana untuk mengucapkan terima kasih kepadamu.

Sahabatku yang kedua ini orangnya selalu bikin ketawa dan benar-benar sangat perhatian kepadaku. Namanya Nopionna. Seperti yang sebelumnya kukatakan, sahabatku yang satu ini kocak dan selalu membuatku dan Fitria selalu tertawa. Tetapi terkadang ia sangat serius  dan terlihat cool tetapi itu hanyalah sementara karena memang wajahnya yang selalu ceria. dan lucu. Tau gak demi aku dia rela lho buat mundurin jadwal kepulangannya. Padahal aku tau banget waktu tanggal 17 itu dia udah packing dengan tasnya. Aku udah liat. Bahkan aku udah mau nanyain kapan Nopi pulang? Tapi ternyata melihat kondisiku yang lemah tak berdaya (lebay) dia mengurungkan niatnya untuk pulang dan menemaniku di kontrakan. Aku semakin terharu dengan sikap kedua sahabatku ini. Tanpa sepengetahuan mereka aku sering menangis dimalam hari ketika aku teringat kebaikan-kebaikan yang telah mereka berikan kepadaku tetapi aku tidak bisa membalasnya. Setiap saat nopi selalu menanyakan kondisiku. apakah sudah membaik atau belum. Essy butuh apa nanti nopi yang beliin. Semua itu membuatku ingin selalu menangis. Ketika nopi yang gak diduga-duga mencucikan bajuku sampai-sampai ia rela meng”kerok”i aku padahal dia bener-bener alergi sama bau minyak kayu putih. Tapi dia benar-benar meng”kerok”i aku sampai selesai. Aku yang awalnya mau bertanya mengurungkan niatku dan terdiam dalam kerokan nopi. Kemudian ketika nopi yang juga menemaniku menunggu keputusan pelaksanaan UP dari jam 09.00 hingga jam 13.00 yang akhirnya diputuskan bahwa UP diundur hingga besok. Aku sedih karena merasa pengorbanan temanku sia-sia. Sungguh saat itu aku sangat sedih. Tapi kedua sahabatku ini selalu bisa menghiburku apalagi dengan tingkah laku lucunya nopionna.

Ada lagi sahabatku yang namanya Istiq sama Elis. Saat aku masih belum terlalu parah bahkan mereka mengunjungiku dan memberikanku semangkuk bubur kacang hijau hangat dan juga coklat silverqueen dari istiq. Kemudiaan tanpa bantuan mbak Isti mungkin sampai aku pulang aku tidak mendapatkan pengobatan yang semestinya. Kemudian support dari Dinar, Umi, Nune, Arbay, Istiq, Elis, Mbak Isti, Mb Anik, Ka Teki, Ka Tatang, Ka Maw, Ka Junjun, Ka Dani, Ka Andri, Ka Afif, Ka Septian, Ikrom, Mb Vita, Mb Lusia, Mb Rusty, Mb Ayun, Mb Kiky, Deny, Mey, Arly, sampai ke adik-adik forces 10, tanpa doa dan semangat dari kalian mungkin aku gak akan pulih secepat ini. Terima kasih banyak semuanya.

LITERASI BUKU FIKSI

 LITERASI BUKU FIKSI 
KELAS 7 SMP IT ISTANAMULIA
SEMESTER TA 2018/2019

A. Menemukan unsur unsur buku fiksi dan nonfiksi
B. Membuat peta pikiran/sinopsis tentang buku fiksi dan nonfiksi 
C. Menelaah hubungan unsur- unsur dalam buku fiksi dan nonfiksi
D. Menyajikan tanggapan terhadap buku fiksi/nonfiksi

1. Fiksi 
Fiksi adalah cerita atau latar yang berasal dari imajinasi—dengan kata lain, tidak secara ketat berdasarkan sejarah atau fakta.[1][2][3] Fiksi bisa dieskpresikan dalam beragam format, termasuk tulisan, pertunjukan langsung, film, acara televisi, animasi, permainan video, dan permainan peran, walaupun istilah ini awalnya dan lebih sering digunakan untuk bentuk sastra naratif,[4] termasuk novel, novella, cerita pendek, dan sandiwara. Fiksi biasanya digunakan dalam arti paling sempit untuk segala "narasi sastra".[5]
Karya fiksi merupakan hasil dari imajinasi kreatif, jadi kecocokannya dengan dunia nyata biasanya diasumsikan oleh audiensnya.[6]Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya.[7] Sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata bisa saja terjadi di dunia fiksi.[7] Dengan demikian, fiksi umumnya tidak diharapkan untuk hanya menampilkan tokoh yang merupakan orang nyata atau deskripsi yang akurat secara faktual. Alih-alih, konteks fiksi, yang tidak persis berpatokan pada dunia nyata, secara umum dipahami sebagai sesuatu yang lebih terbuka terhadap interpretasi.[8] Tokoh dan peristiwa di dalam dunia fiksi mungkin berlatar di dalam konteks mereka sendiri yang sepenuhnya terpisah dari dunia nyata: suatu semesta fiksi yang mandiri. Fiksi merupakan lawan kata untuk nonfiksi, yang tokoh-tokohnya memegang tanggung jawab untuk hanya menampilkan fakta sejarah dan faktual; akan tetapi, perbedaan antara fiksi dan nonfiksi bisa menjadi tidak jelas, misalnya dalam sastra pascamodern.[9]

Ilustrasi dari Alice's Adventures in Wonderland karya Lewis Carroll, yang menggambarkan protagonis fiksi, Alice, yang sedang memainkan permainan kroket fantasi.
Secara tradisional, fiksi termasuk novel, cerita pendek, fabel, legenda, mitos, dongeng, epik dan puisi naratif, sandiwara (termasuainan boneka, dan berbagai jenis tarian teatrikal). Namk opera, teater musikal, drama, permun, fiksi juga dapat mencakup buku komik, dan berbagai kartun animasi, stop motion, anime, manga, film, permainan video, program radio, program televisi (komedi dan drama), dan lain sebagainya.
Jenis fiksi sastra dalam prosa termasuk:[10]
  • Cerita pendek: Karya dengan setidaknya 2,000 kata namun diatas 7,500 kata. Batasan antara cerita pendek yang panjang dengan novella tidak begitu jelas.[11]
  • Novella: Karya dengan setidaknya 17,500 kata namun dibawah 50,000 kata. Karya Joseph Conrad bertajuk Heart of Darkness (1899) merupakan contoh dari novella.[12]
  • Novel: Karya dengan 50,000 kata atau lebih.

Cerita pendek

Cerita pendek atau Cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif yang cenderung padat dan langsung pada tujuannya. Cerpen sangatlah mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema bahasa, dan sudut pandang secara luas dibandingkan dengan karya fiksi yang lebih panjang.[13]
Ciri sebuah cerpen dapat dibaca sekali duduk, plot diarahkan hanya pada sebuah insiden atau peristiwa tunggal, watak tokoh tidak dikembangkan secara penuh apabila tokoh itu baik maka hanya kebaikan saja yang diceritakan sedangkan sifat lainya tidak, dimensi ruang dan waktu terbatas, cerita lebih padat, memusat, dan mendalam, mencapai keutuhan secara eksklusi (terpisah atau khusus).[14]

Novel

Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang yang tertulis dan naratif. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.[13] Kata novel berasal dari Bahasa Italia, novella yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita” dan novel memiliki cerita yang lebih kompleks dari cerpen.[7]
Ciri sebuah novel adalah tidak dibaca sekali duduk, plot diarahkan pada insiden atau peristiwa jamak,watak tokoh dikembangkan secara penuh, dimensi ruang dan waktu yang lebih meluas, cerita lebih luas dan mencapai keutuhan secara inklusi.[14]

Internet

Internet memberikan pengaruh besar terhadap pembuatan dan penyebaran fiksi, menyebabkan munculnya keraguan pada kemampuan hak cipta sebagai cara untuk memastikan bahwa royalti dibayarkan kepada pemegang hak cipta.[15] Selain itu, perpustakaan digital seperti Project Gutenberg membuat naskah-naskah domain umum menjadi lebih tersedia. Gabungan dari komputer rumahan yang tidak mahal, Internet dan kreativitas para penggunanya juga menghasilkan bentuk fiksi baru, misalnya permainan komputer interaktif atau komik yang dibuat melalui komputer. Banyak sekali forum untuk fiksi penggemar yang bisa dicari secara daring, di mana para pengikut setia dunia fiksi tertentu membuat dan menyebarkan cerita turunan. Internet juga digunakan untuk mengembangkan fiksi blog, di mana cerita ditampilkan melalui blog entah sebagai fiksi kilat atau blog serial, dan fiksi kolaboratif, di mana cerita ditulis dalam banyak bagian oleh para penulis berbeda, atau seluruh teksnya bisa direvisi oleh siapapun menggunakan suatu wiki.

Genre

Fiksi pada umumnya terbagi menjadi sejumlah genre: bagian-bagian dari fiksi, masing-masingnya dibedakan oleh gaya, teknik naratif, isi media, atau kriteria yang didefinisikan secara populer. Meskipun sebuah karya tergolong imajiner tetapi ia memiliki golongan yang disebut Fiksi Non-fiksi (Nonfiction Fiction), yakni sebuah bentuk karya fiksi yang dasar ceritanya merupakan sebuah fakta.[7] Yang termasuk kedalam Fiksi Non-fiksi adalah:
  • Fiksi sejarah (Historical fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya merupakan sejarah. Novel ini terikat oleh fakta-fakta sejarah, tetapi fiksi ini memberikan ruang gerak untuk fiksionalitas, misalnya dengan memberitakan pikiran dan perasaan tokoh lewat percakapan. Sebagai contoh adalah Bendera Hitam dari Kurasan dan Tentara Islam di Tanah Galia karya Darji Zaidan.
  • Fiksi ilmiah (Science fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya adalah fakta ilmu pengetahuan.[7] Sebagai contoh novel ini adalah 1984, karya George Orwell. Genre ini misalnya, memprediksi atau mengandaikan teknologi yang bukan realita pada saat penciptaan karya tersebut: novel Jules Verne From the Earth to the Moon diterbitkan pada tahun 1865 dan pada tahun 1969, astronot Neil Armstrong pertama kali mendarat di bulan.
  • Fiksi biografis (Biographical fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya adalah fiksi biografis. Karya biografis juga memberikan ruang bagi fiksionalitas, misalnya yang berupa sikap yang diberikan oleh penulis, di samping juga munculnya bentuk-bentuk dialog.[7] Sebagai contoh karya biografis adalah Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams, Kuantar Kau ke Gerbang dan Tahta untuk Rakyat.
Beberapa karya fiksi sedikit atau sangat digambarkan ulang berdasarkan pada beberapa kisah asli yang sebenarnya, atau sebuah biografi yang direkonstruksi.[16] Seringkali, bahkan ketika cerita fiksi didasarkan pada fakta, mungkin terdapat penambahan dan pengurangan dari kisah nyata untuk membuatnya lebih menarik. Contohnya adalah The Things They Carried karya Tim O'Brien, serial cerita pendek mengenai Perang Vietnam.
Karya fiksi yang secara eksplisit melibatkan unsur-unsur supernatural, magis, atau secara ilmiah tidak mungkin sering diklasifikasikan dalam genre fantasi, termasuk novel karya Lewis Carroll Alice In Wonderland, seri Harry Potter karya J. K. Rowling, dan The Lord of the Rings karya J. R. R. Tolkien. Pencipta fantasi terkadang memperkenalkan makhluk imajiner dan tokoh-tokoh seperti naga dan peri.[3]

Realisme

Fiksi realistis biasanya melibatkan cerita yang latar dasarnya (waktu dan lokasi di dunia) adalah nyata dan kejadian-kejadiannya dapat terjadi secara layak dalam pengaturan dunia nyata; fiksi non-realistik melibatkan cerita yangterjadi pada latar sebaliknya, sering kali berlatar pada alam semesta yang sepenuhnya imajiner, sejarah alternatif dunia selain yang saat ini dipahami sebagai benar, atau lokasi atau waktu lain yang tidak nyata. Terkadang bahkan menghadirkan teknologi yang tidak mungkin atau pembangkangan terhadap hukum alam yang dipahami saat ini. Namun, semua jenis fiksi boleh jadi mengundang audiens mereka untuk mengeksplorasi ide-ide, masalah, atau kemungkinan yang nyata dalam latar imajiner.[note 1][note 2]
Kritikus sastra James Wood, berpendapat bahwa "fiksi adalah baik kecerdasan dan hal yang terlihat seakan-akan benar", yang berarti bahwa fiksi membutuhkan baik penemuan kreatif maupun tingkat kepercayaan yang dapat dipercaya,[17] sebuah gagasan yang sering dikemas dalam istilah penyair Samuel Taylor Coleridge: penangguhan ketidakpercayaan. Juga, kemungkinan-kemungkinan fiktif yang tak terbatas itu sendiri menandakan ketidakmungkinan mengetahui realitas secara penuh, secara provokatif menunjukkan bahwa tidak ada kriteria untuk mengukur konstruksi realitas.[18]

Fiksi sastra

Fiksi sastra diartikan sebagai karya fiksi yang dianggap memiliki nilai sastra, berbeda dari fiksi "genre" yang lebih komersial. Perbedaan ini bisa menjadi kontroversial di antara para kritikus dan cendekiawan.
Neal Stephenson berpendapat bahwa walaupun definisi apapun adalah sederhana, tapi pada masa kini ada perbedaan budaya umum antara fiksi sastra dan genre. Di satu pihak, para penulis sastra saat ini sering disokong oleh patron, dengan dipekerjakan di universitas atau lembaga serupa, dan dengan keberlanjutan posisinya ditentukan tidak hanya oleh penjualan buku tetapi juga oleh kritik dari penulis sastra ternama lain serta kritikus. Di pihak lain, menurutnya, penulis fiksi genre cenderung menyokong diri mereka sendiri melalui penjualan buku.[19] Akan tetapi, dalam suatu wawancara, John Updike mengeluhkan bahwa "kategori 'fiksi sastra' baru-baru ini muncul untuk menyiksa orang sepertiku yang hanya ingin menulis buku, dan jika ada yang mau membacanya, itu bagus, semakin banyak semakin meriah. ... Aku semacam penulis genre. Aku menulis fiksi sastra, yang mana seperti fiksi mata-mata atau chick lit".[20]

Perkembangan karya fiksi di Indonesia

Pertama kali sebuah karya fiksi yang masuk ke Indonesia merupakan karya novel terjemahan,masa ini dinamakan Sastra Melayu Lama sekitar tahun 1870-an.[13] Pada tahun 1920 terbitlah karya sastra berupa prosa seperti novel, cerpen, drama dan lain sebagainya. Angkatan ini dikenal dengan Angkatan Balai Pustaka, karya karya novelis Indonesia yang terkenal pada masa ini adalah Siti NurbayaSalah Asuhan, dan Si Cebol Merindukan Bulan.[21]
Pada masa berikutnya muncullah angkatan Pujangga Baru sebagai reaksi keras atas banyak sensor oleh Penerbit Balai Pustaka. Karya-karya yang terkenal pada masa ini adalah Tenggelamnya Kapal Van der WijckBelenggu dan Di Bawah Lindungan Ka'bah.[22]
Lalu muncullah Angkatan '45, angkatan ini lebih realistik dibanding angkatan sebelumnya. Sastrawan yang terkenal pada masa ini adalah : Chairil Anwar, Idrus, dan Trisno Sumardjo.[13] Angkatan berikutnya adalah Angkatan 1950-1960.[13] Ciri karya sastra dari angkatan ini di dominasi oleh cerpen dan puisi. Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Karya yang terkenal pada masa ini adalah Mochtar Loebis, Ramadhan K.H, dan W.S. Rendra.[13]
Dan berikutnya datanglah Angkatan 1966-1970 yang karya sastranya menganut aliran surealis, arketipe dan absurd.[23] Sastrawan terkenal pada masa ini adalah : Taufik Ismail, Umar Kayam, dan Titis Basino. Kemudian pada dekade berikutnya karya sastra lebih di dominasi oleh roman, angkatan ini dinamakan angkatan 1980-1990. Sastrawan terkenal pada zaman ini adalah Nh. Dini. dan berikutnya adalah Angkatan Reformasi. Pada masa ini banyaknya karya sastra berupa novel, cerpen dan puisi yang bertemakan sosial dan politik.[24]
Dan terakhir adalah Angkatan 2000-an. Novelis terkenal pada masa ini adalah Andrea Hirata[13]

Unsur Unsur Cerita Fiksi :
  • Tema, yakni gagasan dasar yang umum dalam sebuah karya yang terkandung di dalamnya.
  • Tokoh, yakni pelaku yang ada di karya sastra tersebut.
  • Alur, yakni urutan kejadian yang ada di dalam cerita.
  • Konflik, yakni kejadian penting yang ada di dalam cerita.
  • Klimaks, yakni konflik sudah mencapai tingkat intensitas tinggi dan merupakan suatu kejadian tidak dapat dihindari.
  • Latar, yakni tempat, lingkungan dan waktu terjadi peristiwa yang diceritakan.
  • Amanat, yakni pemecahan solusi dari sang pengarang atas persoalan.
  • Sudut pandang, yakni cara memandang si pengarang untuk bisa menyajikan tokoh pada tindakan latar dan peristiwanya.
  • Penokohan, yakni cara pengarang dalam menampilkan tokoh.
  • Kesatuan.
  • Logika.
  • Penafsiran.
  • Gaya.   
CONTOH CERITA FIKSI.

Faishal. seorang pemuda berusia 20 tahun ini adalah seorang yang berkepribadian mulia. Hari-harinya senantiasa dipenuhi dengan aktifitas yang bermanfaat. Tidak terdapat sesuatupun baik itu menyenangkan maupun menyedihkan, melainkan dihadapinya dengan seulas senyum.
Malam itu, ketika Faishal sedang terlelap dalam tidurnya, Faishal bermimpi seakan-akan dia berada di dalam istana yang sangat indah. Segala perabotannya terbuat dari emas murni. Dinding-dindingnya berlapiskan zamrud dan permata. Lantainya terbuat dari kaca yang sangat bening dimana di bagian bawahnya terdapat air jernih yang mengalir. Belum selesai Faishal mengamati setiap keindahan istana, tiba-tiba Faishal dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang memakai baju kebesarannya, dan mengenakan mahkota di kepalanya. Kedatangannya juga disertai dengan puluhan pengawalnya. Jika dilihat dari penampilannya, tak lain Ia adalah raja di istana tersebut.
“Selamat datang, wahai Faishal.” Sapa raja.
“Siapakah anda?” Tanya Faishal.
“Saya adalah raja di istana ini. Kamu dapat memanggil saya Raja Abdul Ghofur.” Jawab raja.
“Kalau boleh tahu, mengapa anda memanggil saya ke ke sini?” Tanya Faishal dengan hati berdebar.
“Ketahuilah Faishal, bahwa kamu adalah seorang yang mulia. Kemuliaanmu tidak hanya terkenal di kalangan orang-orang yang mengenalmu. Namun, kemuliaanmu juga terkenal di kalangan penduduk langit. Oleh karena itu, kami mengundangmu ke kerajaan kami karena kami ingin memberimu penghargaan. Maka, terimalah olehmu sebuah keris pusaka ini sebagai hadiah dari kami.” Terang raja Abdul Ghofur seraya menyerahkan keris pusaka tersebut kepada Faishal.
“Apa kegunaan dari keris ini?” Tanya Faishal dengan sangat penasaran.
“Kamu dapat menggunakan keris ini untuk menyembuhkan sakit. Namun, apabila kamu menyalahgunakan keris ini, dirimu akan ditimpa malapetaka.” Jelas raja.
“Saya akan berusaha untuk menjaga dan melaksanakan amanat anda dengan baik.” Kata Faishal menenangkan.
Terbangunlah Faishal dari tidurnya. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Namun, perasaannya tersebut segera ditepisnya disaat dia menemukan keris tersebut di bawah bantalnya.
Keesokan harinya, teman Faishal yang bernama Maryam datang bertamu ke rumah Faishal.
“Faishal, sebagaimana yang engkau ketahui, bahwa kondisi Ibuku kian hari kian parah. Berbagai tabib telah kudatangkan. Namun, Ibuku tetap saja mengalami kelumpuhan.” Keluh Maryam.
“Lantas, apa yang kau butuhkan dariku?” Tanya Faishal dengan sangat cemas.
“Aku memintamu untuk mengobati Ibuku. Karena aku tahu, kau sangat pandai dalam meracik obat.” Jawab Maryam.
“Baiklah. Akan aku usahakan.” Kata Faishal.
Maka, segeralah Faishal mempersiapkan segala sesuatunya termasuk air rendaman keris pusaka. Dengan berjalan kaki, Faishal segera menuju ke rumah Maryam. Sesampainya di rumah Maryam, Faishal segera menemui Ibunya Maryam di kamarnya. Lalu, oleh Faishal, diusapkannya air rendaman keris pusaka tersebut ke wajah, tangan, dan kaki Ibunya Maryam. Aneh bin ajaib, Ibunya Maryam yang telah bertahun-tahun terbaring di tempat tidurnya, kini kembali sembuh seperti sedia kala.
Sejak hari itu, banyak sekali warga dari seluruh desa yang datang berduyun-duyun menemui Faishal di rumahnya. Mereka datang dengan harapan, agar Faishal bersedia menyembuhkan penyakit yang mereka derita.
Namun, dengan kemampuan yang dimilikinya, Faishal berubah menjadi seorang yang sombong. Ia pun mulai berani untuk menyalahgunakan keris pusakanya. Karena kesombongannya itulah, keris pusakanya hilang secara misterius. Tidak hanya itu, tiba-tiba saja seluruh tubuhnya dipenuhi dengan penyakit kulit yang sangat menjijikkan. Dan akhirnya, matilah Faishal secara mengenaskan di tempat kediamannya.
Cerpen Karangan: Hengky Fairuz Busthomy
Cerpen Keris Pembawa Bencana merupakan cerita pendek karangan Hengky Fairuz Busthomy, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

sumber: 

Literasi Buku Nonfiksi

 LITERASI BUKU FIKSI  KELAS 7 SMP IT ISTANAMULIA SEMESTER TA 2018/2019 A. Menemukan unsur unsur buku fiksi dan nonfiksi B. Membua...