LITERASI BUKU FIKSI
KELAS 7 SMP IT ISTANAMULIA
SEMESTER TA 2018/2019
A. Menemukan unsur unsur buku fiksi dan nonfiksi
B. Membuat peta pikiran/sinopsis tentang buku fiksi dan nonfiksi
C. Menelaah hubungan unsur- unsur dalam buku fiksi dan nonfiksi
D. Menyajikan tanggapan terhadap buku fiksi/nonfiksi
1. Fiksi
Fiksi adalah cerita atau latar yang berasal dari imajinasi—dengan kata lain, tidak secara ketat berdasarkan sejarah atau fakta.[1][2][3] Fiksi bisa dieskpresikan dalam beragam format, termasuk tulisan, pertunjukan langsung, film, acara televisi, animasi, permainan video, dan permainan peran, walaupun istilah ini awalnya dan lebih sering digunakan untuk bentuk sastra naratif,[4] termasuk novel, novella, cerita pendek, dan sandiwara. Fiksi biasanya digunakan dalam arti paling sempit untuk segala "narasi sastra".[5]
Karya fiksi merupakan hasil dari imajinasi kreatif, jadi kecocokannya dengan dunia nyata biasanya diasumsikan oleh audiensnya.[6]Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya.[7] Sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata bisa saja terjadi di dunia fiksi.[7] Dengan demikian, fiksi umumnya tidak diharapkan untuk hanya menampilkan tokoh yang merupakan orang nyata atau deskripsi yang akurat secara faktual. Alih-alih, konteks fiksi, yang tidak persis berpatokan pada dunia nyata, secara umum dipahami sebagai sesuatu yang lebih terbuka terhadap interpretasi.[8] Tokoh dan peristiwa di dalam dunia fiksi mungkin berlatar di dalam konteks mereka sendiri yang sepenuhnya terpisah dari dunia nyata: suatu semesta fiksi yang mandiri. Fiksi merupakan lawan kata untuk nonfiksi, yang tokoh-tokohnya memegang tanggung jawab untuk hanya menampilkan fakta sejarah dan faktual; akan tetapi, perbedaan antara fiksi dan nonfiksi bisa menjadi tidak jelas, misalnya dalam sastra pascamodern.[9]
Secara tradisional, fiksi termasuk novel, cerita pendek, fabel, legenda, mitos, dongeng, epik dan puisi naratif, sandiwara (termasuainan boneka, dan berbagai jenis tarian teatrikal). Namk opera, teater musikal, drama, permun, fiksi juga dapat mencakup buku komik, dan berbagai kartun animasi, stop motion, anime, manga, film, permainan video, program radio, program televisi (komedi dan drama), dan lain sebagainya.
Jenis fiksi sastra dalam prosa termasuk:[10]
- Cerita pendek: Karya dengan setidaknya 2,000 kata namun diatas 7,500 kata. Batasan antara cerita pendek yang panjang dengan novella tidak begitu jelas.[11]
- Novella: Karya dengan setidaknya 17,500 kata namun dibawah 50,000 kata. Karya Joseph Conrad bertajuk Heart of Darkness (1899) merupakan contoh dari novella.[12]
- Novel: Karya dengan 50,000 kata atau lebih.
Cerita pendek
Cerita pendek atau Cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif yang cenderung padat dan langsung pada tujuannya. Cerpen sangatlah mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema bahasa, dan sudut pandang secara luas dibandingkan dengan karya fiksi yang lebih panjang.[13]
Ciri sebuah cerpen dapat dibaca sekali duduk, plot diarahkan hanya pada sebuah insiden atau peristiwa tunggal, watak tokoh tidak dikembangkan secara penuh apabila tokoh itu baik maka hanya kebaikan saja yang diceritakan sedangkan sifat lainya tidak, dimensi ruang dan waktu terbatas, cerita lebih padat, memusat, dan mendalam, mencapai keutuhan secara eksklusi (terpisah atau khusus).[14]
Novel
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang yang tertulis dan naratif. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.[13] Kata novel berasal dari Bahasa Italia, novella yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita” dan novel memiliki cerita yang lebih kompleks dari cerpen.[7]
Ciri sebuah novel adalah tidak dibaca sekali duduk, plot diarahkan pada insiden atau peristiwa jamak,watak tokoh dikembangkan secara penuh, dimensi ruang dan waktu yang lebih meluas, cerita lebih luas dan mencapai keutuhan secara inklusi.[14]
Internet
Internet memberikan pengaruh besar terhadap pembuatan dan penyebaran fiksi, menyebabkan munculnya keraguan pada kemampuan hak cipta sebagai cara untuk memastikan bahwa royalti dibayarkan kepada pemegang hak cipta.[15] Selain itu, perpustakaan digital seperti Project Gutenberg membuat naskah-naskah domain umum menjadi lebih tersedia. Gabungan dari komputer rumahan yang tidak mahal, Internet dan kreativitas para penggunanya juga menghasilkan bentuk fiksi baru, misalnya permainan komputer interaktif atau komik yang dibuat melalui komputer. Banyak sekali forum untuk fiksi penggemar yang bisa dicari secara daring, di mana para pengikut setia dunia fiksi tertentu membuat dan menyebarkan cerita turunan. Internet juga digunakan untuk mengembangkan fiksi blog, di mana cerita ditampilkan melalui blog entah sebagai fiksi kilat atau blog serial, dan fiksi kolaboratif, di mana cerita ditulis dalam banyak bagian oleh para penulis berbeda, atau seluruh teksnya bisa direvisi oleh siapapun menggunakan suatu wiki.
Genre
Fiksi pada umumnya terbagi menjadi sejumlah genre: bagian-bagian dari fiksi, masing-masingnya dibedakan oleh gaya, teknik naratif, isi media, atau kriteria yang didefinisikan secara populer. Meskipun sebuah karya tergolong imajiner tetapi ia memiliki golongan yang disebut Fiksi Non-fiksi (Nonfiction Fiction), yakni sebuah bentuk karya fiksi yang dasar ceritanya merupakan sebuah fakta.[7] Yang termasuk kedalam Fiksi Non-fiksi adalah:
- Fiksi sejarah (Historical fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya merupakan sejarah. Novel ini terikat oleh fakta-fakta sejarah, tetapi fiksi ini memberikan ruang gerak untuk fiksionalitas, misalnya dengan memberitakan pikiran dan perasaan tokoh lewat percakapan. Sebagai contoh adalah Bendera Hitam dari Kurasan dan Tentara Islam di Tanah Galia karya Darji Zaidan.
- Fiksi ilmiah (Science fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya adalah fakta ilmu pengetahuan.[7] Sebagai contoh novel ini adalah 1984, karya George Orwell. Genre ini misalnya, memprediksi atau mengandaikan teknologi yang bukan realita pada saat penciptaan karya tersebut: novel Jules Verne From the Earth to the Moon diterbitkan pada tahun 1865 dan pada tahun 1969, astronot Neil Armstrong pertama kali mendarat di bulan.
- Fiksi biografis (Biographical fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya adalah fiksi biografis. Karya biografis juga memberikan ruang bagi fiksionalitas, misalnya yang berupa sikap yang diberikan oleh penulis, di samping juga munculnya bentuk-bentuk dialog.[7] Sebagai contoh karya biografis adalah Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams, Kuantar Kau ke Gerbang dan Tahta untuk Rakyat.
Beberapa karya fiksi sedikit atau sangat digambarkan ulang berdasarkan pada beberapa kisah asli yang sebenarnya, atau sebuah biografi yang direkonstruksi.[16] Seringkali, bahkan ketika cerita fiksi didasarkan pada fakta, mungkin terdapat penambahan dan pengurangan dari kisah nyata untuk membuatnya lebih menarik. Contohnya adalah The Things They Carried karya Tim O'Brien, serial cerita pendek mengenai Perang Vietnam.
Karya fiksi yang secara eksplisit melibatkan unsur-unsur supernatural, magis, atau secara ilmiah tidak mungkin sering diklasifikasikan dalam genre fantasi, termasuk novel karya Lewis Carroll Alice In Wonderland, seri Harry Potter karya J. K. Rowling, dan The Lord of the Rings karya J. R. R. Tolkien. Pencipta fantasi terkadang memperkenalkan makhluk imajiner dan tokoh-tokoh seperti naga dan peri.[3]
Realisme
Fiksi realistis biasanya melibatkan cerita yang latar dasarnya (waktu dan lokasi di dunia) adalah nyata dan kejadian-kejadiannya dapat terjadi secara layak dalam pengaturan dunia nyata; fiksi non-realistik melibatkan cerita yangterjadi pada latar sebaliknya, sering kali berlatar pada alam semesta yang sepenuhnya imajiner, sejarah alternatif dunia selain yang saat ini dipahami sebagai benar, atau lokasi atau waktu lain yang tidak nyata. Terkadang bahkan menghadirkan teknologi yang tidak mungkin atau pembangkangan terhadap hukum alam yang dipahami saat ini. Namun, semua jenis fiksi boleh jadi mengundang audiens mereka untuk mengeksplorasi ide-ide, masalah, atau kemungkinan yang nyata dalam latar imajiner.[note 1][note 2]
Kritikus sastra James Wood, berpendapat bahwa "fiksi adalah baik kecerdasan dan hal yang terlihat seakan-akan benar", yang berarti bahwa fiksi membutuhkan baik penemuan kreatif maupun tingkat kepercayaan yang dapat dipercaya,[17] sebuah gagasan yang sering dikemas dalam istilah penyair Samuel Taylor Coleridge: penangguhan ketidakpercayaan. Juga, kemungkinan-kemungkinan fiktif yang tak terbatas itu sendiri menandakan ketidakmungkinan mengetahui realitas secara penuh, secara provokatif menunjukkan bahwa tidak ada kriteria untuk mengukur konstruksi realitas.[18]
Fiksi sastra
Fiksi sastra diartikan sebagai karya fiksi yang dianggap memiliki nilai sastra, berbeda dari fiksi "genre" yang lebih komersial. Perbedaan ini bisa menjadi kontroversial di antara para kritikus dan cendekiawan.
Neal Stephenson berpendapat bahwa walaupun definisi apapun adalah sederhana, tapi pada masa kini ada perbedaan budaya umum antara fiksi sastra dan genre. Di satu pihak, para penulis sastra saat ini sering disokong oleh patron, dengan dipekerjakan di universitas atau lembaga serupa, dan dengan keberlanjutan posisinya ditentukan tidak hanya oleh penjualan buku tetapi juga oleh kritik dari penulis sastra ternama lain serta kritikus. Di pihak lain, menurutnya, penulis fiksi genre cenderung menyokong diri mereka sendiri melalui penjualan buku.[19] Akan tetapi, dalam suatu wawancara, John Updike mengeluhkan bahwa "kategori 'fiksi sastra' baru-baru ini muncul untuk menyiksa orang sepertiku yang hanya ingin menulis buku, dan jika ada yang mau membacanya, itu bagus, semakin banyak semakin meriah. ... Aku semacam penulis genre. Aku menulis fiksi sastra, yang mana seperti fiksi mata-mata atau chick lit".[20]
Perkembangan karya fiksi di Indonesia
Pertama kali sebuah karya fiksi yang masuk ke Indonesia merupakan karya novel terjemahan,masa ini dinamakan Sastra Melayu Lama sekitar tahun 1870-an.[13] Pada tahun 1920 terbitlah karya sastra berupa prosa seperti novel, cerpen, drama dan lain sebagainya. Angkatan ini dikenal dengan Angkatan Balai Pustaka, karya karya novelis Indonesia yang terkenal pada masa ini adalah Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Si Cebol Merindukan Bulan.[21]
Pada masa berikutnya muncullah angkatan Pujangga Baru sebagai reaksi keras atas banyak sensor oleh Penerbit Balai Pustaka. Karya-karya yang terkenal pada masa ini adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Belenggu dan Di Bawah Lindungan Ka'bah.[22]
Lalu muncullah Angkatan '45, angkatan ini lebih realistik dibanding angkatan sebelumnya. Sastrawan yang terkenal pada masa ini adalah : Chairil Anwar, Idrus, dan Trisno Sumardjo.[13] Angkatan berikutnya adalah Angkatan 1950-1960.[13] Ciri karya sastra dari angkatan ini di dominasi oleh cerpen dan puisi. Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Karya yang terkenal pada masa ini adalah Mochtar Loebis, Ramadhan K.H, dan W.S. Rendra.[13]
Dan berikutnya datanglah Angkatan 1966-1970 yang karya sastranya menganut aliran surealis, arketipe dan absurd.[23] Sastrawan terkenal pada masa ini adalah : Taufik Ismail, Umar Kayam, dan Titis Basino. Kemudian pada dekade berikutnya karya sastra lebih di dominasi oleh roman, angkatan ini dinamakan angkatan 1980-1990. Sastrawan terkenal pada zaman ini adalah Nh. Dini. dan berikutnya adalah Angkatan Reformasi. Pada masa ini banyaknya karya sastra berupa novel, cerpen dan puisi yang bertemakan sosial dan politik.[24]
Dan terakhir adalah Angkatan 2000-an. Novelis terkenal pada masa ini adalah Andrea Hirata[13]
Unsur Unsur Cerita Fiksi :
- Tema, yakni gagasan dasar yang umum dalam sebuah karya yang terkandung di dalamnya.
- Tokoh, yakni pelaku yang ada di karya sastra tersebut.
- Alur, yakni urutan kejadian yang ada di dalam cerita.
- Konflik, yakni kejadian penting yang ada di dalam cerita.
- Klimaks, yakni konflik sudah mencapai tingkat intensitas tinggi dan merupakan suatu kejadian tidak dapat dihindari.
- Latar, yakni tempat, lingkungan dan waktu terjadi peristiwa yang diceritakan.
- Amanat, yakni pemecahan solusi dari sang pengarang atas persoalan.
- Sudut pandang, yakni cara memandang si pengarang untuk bisa menyajikan tokoh pada tindakan latar dan peristiwanya.
- Penokohan, yakni cara pengarang dalam menampilkan tokoh.
- Kesatuan.
- Logika.
- Penafsiran.
- Gaya.
CONTOH CERITA FIKSI.
Malam itu, ketika Faishal sedang terlelap dalam tidurnya, Faishal bermimpi seakan-akan dia berada di dalam istana yang sangat indah. Segala perabotannya terbuat dari emas murni. Dinding-dindingnya berlapiskan zamrud dan permata. Lantainya terbuat dari kaca yang sangat bening dimana di bagian bawahnya terdapat air jernih yang mengalir. Belum selesai Faishal mengamati setiap keindahan istana, tiba-tiba Faishal dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang memakai baju kebesarannya, dan mengenakan mahkota di kepalanya. Kedatangannya juga disertai dengan puluhan pengawalnya. Jika dilihat dari penampilannya, tak lain Ia adalah raja di istana tersebut.
“Selamat datang, wahai Faishal.” Sapa raja.
“Siapakah anda?” Tanya Faishal.
“Saya adalah raja di istana ini. Kamu dapat memanggil saya Raja Abdul Ghofur.” Jawab raja.
“Kalau boleh tahu, mengapa anda memanggil saya ke ke sini?” Tanya Faishal dengan hati berdebar.
“Ketahuilah Faishal, bahwa kamu adalah seorang yang mulia. Kemuliaanmu tidak hanya terkenal di kalangan orang-orang yang mengenalmu. Namun, kemuliaanmu juga terkenal di kalangan penduduk langit. Oleh karena itu, kami mengundangmu ke kerajaan kami karena kami ingin memberimu penghargaan. Maka, terimalah olehmu sebuah keris pusaka ini sebagai hadiah dari kami.” Terang raja Abdul Ghofur seraya menyerahkan keris pusaka tersebut kepada Faishal.
“Apa kegunaan dari keris ini?” Tanya Faishal dengan sangat penasaran.
“Kamu dapat menggunakan keris ini untuk menyembuhkan sakit. Namun, apabila kamu menyalahgunakan keris ini, dirimu akan ditimpa malapetaka.” Jelas raja.
“Saya akan berusaha untuk menjaga dan melaksanakan amanat anda dengan baik.” Kata Faishal menenangkan.
“Siapakah anda?” Tanya Faishal.
“Saya adalah raja di istana ini. Kamu dapat memanggil saya Raja Abdul Ghofur.” Jawab raja.
“Kalau boleh tahu, mengapa anda memanggil saya ke ke sini?” Tanya Faishal dengan hati berdebar.
“Ketahuilah Faishal, bahwa kamu adalah seorang yang mulia. Kemuliaanmu tidak hanya terkenal di kalangan orang-orang yang mengenalmu. Namun, kemuliaanmu juga terkenal di kalangan penduduk langit. Oleh karena itu, kami mengundangmu ke kerajaan kami karena kami ingin memberimu penghargaan. Maka, terimalah olehmu sebuah keris pusaka ini sebagai hadiah dari kami.” Terang raja Abdul Ghofur seraya menyerahkan keris pusaka tersebut kepada Faishal.
“Apa kegunaan dari keris ini?” Tanya Faishal dengan sangat penasaran.
“Kamu dapat menggunakan keris ini untuk menyembuhkan sakit. Namun, apabila kamu menyalahgunakan keris ini, dirimu akan ditimpa malapetaka.” Jelas raja.
“Saya akan berusaha untuk menjaga dan melaksanakan amanat anda dengan baik.” Kata Faishal menenangkan.
Terbangunlah Faishal dari tidurnya. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Namun, perasaannya tersebut segera ditepisnya disaat dia menemukan keris tersebut di bawah bantalnya.
Keesokan harinya, teman Faishal yang bernama Maryam datang bertamu ke rumah Faishal.
“Faishal, sebagaimana yang engkau ketahui, bahwa kondisi Ibuku kian hari kian parah. Berbagai tabib telah kudatangkan. Namun, Ibuku tetap saja mengalami kelumpuhan.” Keluh Maryam.
“Lantas, apa yang kau butuhkan dariku?” Tanya Faishal dengan sangat cemas.
“Aku memintamu untuk mengobati Ibuku. Karena aku tahu, kau sangat pandai dalam meracik obat.” Jawab Maryam.
“Baiklah. Akan aku usahakan.” Kata Faishal.
“Faishal, sebagaimana yang engkau ketahui, bahwa kondisi Ibuku kian hari kian parah. Berbagai tabib telah kudatangkan. Namun, Ibuku tetap saja mengalami kelumpuhan.” Keluh Maryam.
“Lantas, apa yang kau butuhkan dariku?” Tanya Faishal dengan sangat cemas.
“Aku memintamu untuk mengobati Ibuku. Karena aku tahu, kau sangat pandai dalam meracik obat.” Jawab Maryam.
“Baiklah. Akan aku usahakan.” Kata Faishal.
Maka, segeralah Faishal mempersiapkan segala sesuatunya termasuk air rendaman keris pusaka. Dengan berjalan kaki, Faishal segera menuju ke rumah Maryam. Sesampainya di rumah Maryam, Faishal segera menemui Ibunya Maryam di kamarnya. Lalu, oleh Faishal, diusapkannya air rendaman keris pusaka tersebut ke wajah, tangan, dan kaki Ibunya Maryam. Aneh bin ajaib, Ibunya Maryam yang telah bertahun-tahun terbaring di tempat tidurnya, kini kembali sembuh seperti sedia kala.
Sejak hari itu, banyak sekali warga dari seluruh desa yang datang berduyun-duyun menemui Faishal di rumahnya. Mereka datang dengan harapan, agar Faishal bersedia menyembuhkan penyakit yang mereka derita.
Namun, dengan kemampuan yang dimilikinya, Faishal berubah menjadi seorang yang sombong. Ia pun mulai berani untuk menyalahgunakan keris pusakanya. Karena kesombongannya itulah, keris pusakanya hilang secara misterius. Tidak hanya itu, tiba-tiba saja seluruh tubuhnya dipenuhi dengan penyakit kulit yang sangat menjijikkan. Dan akhirnya, matilah Faishal secara mengenaskan di tempat kediamannya.
Cerpen Karangan: Hengky Fairuz Busthomy
Cerpen Keris Pembawa Bencana merupakan cerita pendek karangan Hengky Fairuz Busthomy, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.
sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar