LITERASI BUKU FIKSI
KELAS 7 SMP IT ISTANAMULIA
SEMESTER TA 2018/2019
A. Menemukan unsur unsur buku fiksi dan nonfiksi
B. Membuat peta pikiran/sinopsis tentang buku fiksi dan nonfiksi
C. Menelaah hubungan unsur- unsur dalam buku fiksi dan nonfiksi
D. Menyajikan tanggapan terhadap buku fiksi/nonfiksi
Non-fiksi adalah klasifikasi untuk setiap karya informatif (seringkali berupa cerita) yang pengarangnya dengan itikad baik bertanggung jawab atas kebenaran atau akurasi dari peristiwa, orang, dan/atau informasi yang disajikan.[1] Sebuah karya yang pengarangnya mengklaim tanggung jawab kebenaran namun tidak jujur maka adalah suatu penipuan sastra; suatu cerita yang pengarangnya tidak mengklaim tanggung jawab kebenaran maka diklasifikasikan sebagai fiksi.[1] Non-fiksi, yang dapat disajikan baik secara obyektifmaupun subyektif, secara tradisional merupakan satu dari dua pembagian utama dari narasi (khususnya dalam penulisan prosa);[2] pembagian tradisional lainnya adalah fiksi, yang berkontras dengan non-fiksi dalam hal penyampaian informasi, peristiwa, dan karakter yang sebagian kecil atau besar merupakan hasil imajinasi.
Jenis non-fiksi
Contoh karya sastra yang termasuk non-fiksi antara lain adalah jenis karangan eksposisi, argumentasi, fungsional, dan opini; esai mengenai seni atau sastra; biografi; memoar; jurnalisme; serta tulisan-tulisan sejarah, ilmiah, teknis (termasuk elektronika), atau ekonomi.[3]
Penerbitan dan toko buku kadang-kadang menggunakan frase "sastra non-fiksi" untuk membedakan karya yang lebih banyak muatan kesusastraan atau intelektualnya, dengan koleksi karya non-fiksi umum lainnya yang jumlahnya lebih besar.[4]
Perbedaan
Batasan antara fiksi dan non-fiksi secara terus-menerus mengabur dan selalu diperdebatkan, khususnya dalam penulisan biografi; [5] sebagaimana perkataan Virginia Woolf: "jika kita berpikir tentang kebenaran sebagai sesuatu yang soliditasnya seperti granit, dan tentang kepribadian sebagai sesuatu yang penggambarannya seperti pelangi, dan merenungkan bahwa tujuan dari biografi adalah untuk menyatukan keduanya menjadi suatu kesatuan yang mulus; kita akan mengakui bahwa masalah yang dihadapi adalah sulit dan bahwa kita tidak perlu heran jika para penulis biografi sebagian besar tidak dapat mengatasinya."[6]
Semi-fiksi adalah fiksi yang menerapkan banyak informasi non-fiksi,[7] misalnya penggambaran fiktif yang berdasarkan kisah nyata.
Jenis non-fiksi khusus
- Makalah akademik
- Penerbitan akademik
- Almanak
- Otobiografi
- Biografi
- Cetak biru
- Laporan buku
- Non-fiksi kreatif
- Dokumen desain
- Diagram
- Buku harian
- Kamus
- Film non-fiksi (misalnya dokumenter)
- Ensiklopedia
- Esai
- Panduan dan manual
- Buku pedoman
- Sejarah
- Jurnal
- Jurnalisme
- Surat
- Kritik sastra
- Memoar
- Sejarah alam
- Filsafat
- Fotografi
- Sains populer
- Bantu mandiri
- Buku ilmiah
- Makalah ilmiah
- Statuta
- Penulisan teknis
- Buku teks
- Tesaurus
- Travelog
- Menulis
struktur atau unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah tulisan artikel.
Apa yang ingin kau tuliskan? Itulah idenya. Ide adalah “pokok hal” atau “pokok permasalahan” yang akan kau teliti dan tuliskan. Semakin tsakep idemu, semakin kerenlah tulisanmu. Karena itu, tulislah hanya ide-ide yang tsakep. Ciri ketsakepan sebuah ide ialah “aktual, bergreget, penting, memantik rasa ingin tahu pembaca”.
Misal. Sekarang lagi ramai tentang sosok Jokowi dan Prabowo sebagai calon presiden. Apa yang ingin kau tuliskan tentang mereka?
Lalu kau munculkan ide berdasar “pokok permasalahan”.
Jokowi atau Prabowokah Sang Pembasmi Koruptor?
Modal Militer Prabowo untuk Libas Korupsi
Watak Kesederhanaan Jokowi Ditakuti Para Koruptor
Ya, itu hanya beberapa contoh. Di dalamnya, ada pokok permasalahan yang akan kau teliti dan tuliskan, yakni “presiden dan pemberantasan korupsi”.
Lain lagi dengan ide yang berbasis “pokok hal”. Ide sejenis ini tidak berbasis “masalah”, tapi bersifat pengetahuan atau motivasi.
Misalnya:
Pentingnya Tahajjud untuk Mengundang Jodohmu
Bahagia Itu Sederhana, Santai Sajalah….
Agresi Israel ke Tanah Palestina
Korupsi dalam Kacamata Islam
Saat Kodifikasi Agama Jadi Kiblat
Pacaran itu Haram atau Tidak, Ya?
Mungkin, kalian yang tsakep akan bertanya di sini, lalu apa bedanya ide dengan judul?
Sering pula ide itu disebut topik atau tema lho. Pada intinya, ia adalah hal yang ingin kau teliti dan tuliskan. Otomatis, judul pun akan sesuai dengan ide itu, bukan? *Iya aja deh….*
Tentu nggak asyik jika topikmu, temamu, idemu tentang “korupsi adalah bagian dari kekufuran”, tapi judulmu ternyata nggak mencerminkan itu sama sekali. Maka, gampangnya, judul yang kau pilih kemudian boleh sama atau berbeda dengan idemu, asalkan tetap mewakili, mencerminkan idemu.
2. Data
Setelah dapat ide, kau harus kumpulin data. Bagus lagi, ide yang akan kau tuliskan sudah kau kuasai data dan keilmuannya. Sudah mendalami dan menguasainya.
Data yang kau pilih haruslah data yang akurat. Jangan data abal-abal tidak jelas juntrungnya.
Ciri data yang akurat itu ialah ilmiah, yang bisa dibuktikan dengan memiliki sumber rujukan yang jelas. Haram hukumnya menggunakan rujukan semaca “menurut sebuah penelitian” atau “katanya” atau “konon” atau…. Harus jelas menurut siapanya.
Bukankah mendapatkan kepastian itu sangat penting? Haaaa….
Misal kau dapat data dari sebuah buku atau artikel atau situs yang terpercaya (tentang situs-situs ini bertelitilah ya, sebab banyak sekali situs yang hanya bersifat propaganda, sama sekali tidak ilmiah). Ciri lainnya ialah ia banyak dikutip atau dipakai orang.
Ciri sebuah data patut diragukan keilmiahannya ialah “sensitif konflik” (ini jangan disamain dengan istilah polemik atau ikhtilaf ya). Hari gini, jangan mudah terprovokasi oleh “ke-wah-an” sebuah tulisan yang kesannya menggelegar. Lebih baik cari saja sumber-sumber data yang kredibel, lazim, popular, dan terpercaya.
Oh ya, saya tandaskan satu hal lagi di sini, bahwa ilmiah bukan berarti lalu tidak ditentang orang lho ya (sedunia setuju gitu). Yang terpenting ialah data yang kau kutip ialah data yang jelas sumbernya dan sumber itu sendiri (usahakan) tidak diragukan kapasitasnya.
Lantas, data yang kau ambil tidak perlulah sekarung gitu. Ambil data yang kau butuhkan saja sebagai penopang keilmiahan tulisanmu.
Ada data yang disebut data primer dan sekunder. Nah, data primer inilah yang harus kau pegang. Soal data sekunder sifatnya pelengkap dan penambahan belaka.
Data primer ialah data yang berkaitan langsung dengan ide yang akan kau tuliskan dan bersifat teori atau data besar. Jika tentang korupsi di Indonesia, sebutlah itu data berdasar KPK. Data sekundernya misal tentang ketidakadilan pembangunan di Indonesia Timur.
Dalam dunia akademik, data primer yang paling dihormati ialah buku, lalu jurnal, lalu media massa, lalu sumber online. Tapi dalam tulisan artikel, peta ini lebih longgar sih.
3. Pembukaan
Setiap artikel tentu harus memiliki bagian pembukaan dulu. Ia menjadi semacam pengantar terhadap ide yang akan kau ulas. Mau sekadar satu atau dua paragraf, ia harus ada.
Bentuk pembukaan yang keren ialah merangsang pembaca untuk melanjutkan membacanya. Ya, setelah judul yang bergreget, pastikan kalimat-kalimat pembukamu juga bertaji ya. Ia bisa dikemas dalam bentuk kutipan atau pertanyaan atau “provokasi” bahkan, dll.
Misal yang berbentuk kutipan:
Nyaris separuh penghuni bumi Indonesia ini masih didera kemiskinan, dan itu merupakan buah haram korupsi. Begitulah data riset terbaru yang dikeluarkan oleh LSM Belum Sempat Korupsi Juga (2014). *contoohhhhhh….
Bentuk pertanyaan:
Mau tahu berapa juta di tahun 2014 ini anak-anak Indonesia yang tidak tersingkir dari bangku sekolah hanya karena kemiskinan? Ya, kemiskinan yang ditebar oleh tangan-tangan kejam koruptor.
Apa benar pacaran itu haram sepenuhnya, tanpa pengecualiaan sedikit pun? Apa lantas juga berarti benar bahwa semua pelaku pacaran itu adalah para muslim sesat, sebagaimana dipekikkan oleh para pengusung fiqh serba subhanallah dan anti dialog itu? *ngoaahhaa…
Bentuk “provokasi”:
Inginkah Anda menjadi satu dari jutaan orang yang berdiam diri menyaksikan pemerkosaan-pemerkosaan terus menayang di depan mata? Masihkah Anda bertahan hati untuk duduk manis menyaksikan kenyataan kian maraknya kekejaman seksual, yang sebagiannya mulai mendera anak-anak tak berdosa itu?
Ya, ya, banyak lagi contoh model lainnya. Intinya, pembukaan haruslah menarik, memikat, dan “memaksa” pembacamu untuk melanjutkan membaca tulisanmu, bukan malah melipat, angop ngantuk, lalu lelap berbantal tulisanmu. Kalau sampai terjadi yang kedua ini, pertanda tulisanmu sukses menjadi pengantar tidur.
4. Analisa sistematis
Data yang sudah kau kumpulin selanjutnya harus kau kuasai sekaitan dengan idemu tadi. Inilah proses analisa.
Analisamu haruslah berjalan secara sistematis. Runut. Jangan lompat-lompat ke sana-sini tidak runtut. Sistematika adalah cerminan cara berpikirmu. State of mind-mu.
Dari bagian pembukaan, analisa, sampai penutup, harus kau jalinkan secara runtut, saling menunjang dan mendukung. Kagak lucu bingiiittt jika analisamu nggak sesuai dengan kesimpulanmu.
Itu sama persis dengan kau berkata, “Aku sayang kamu,” padahal kau tak pernah bertemu dengannya kecuali di sosmed dan BBM sehingga kau tidak pernah bisa menyediakan bahumu secara nyata untuk jadi sandarannya. Sayang macam apa coba yang begitu? Jawab….!!! Eaaakkkk…..haaaa….
Ya, sistematiskanlah cara berpikirmu, runtutkanlah, mengalir teratur, runut, agar analisamu tersaji dengan jernih dan enak.
Saran tambahan, buatlah kerangka tulisan untuk membantumu meruntutkan analisasmu. Misal, di bagian pembukaan, poin-poin apa yang ingin kau sajikan. Lalu di bagian pembahasan, kau kutip sebuah teori, dilanjutkan dengan data-data lapangan, dan dilanjutkan lagi dengan pendapatmu pribadi. Di bagian kesimpulan, kau tegaskan inti dari semua analisamu itu.
Ya, buat corat-coret saja seputar plot tulisanmu itu mau kayak apa. Ini pasti sangat membantu membuatmu fokus dan sistematis.
5. Kesimpulan
Tentu, artikel harus ada kesimpulannya. Kesimpulan di sini tidak melulu harus berupa solusi lho ya. Ia bisa bersifat penegasan teori, atau data lapangan, atau motivasi tertentu terkait ide tulisanmu.
Misal, idemu tentang “korupsi itu adalah salah satu bentuk kekufuran”. Maka kau bisa memungkasi tulisanmu dengan kesimpulan begini:
Sudah jelas sekali berdasar tuturan Sayyid Sabiq di atas, bahwa kafir bukan semata tentang ingkar tauhid. Berbuat kerusakan di muka bumi juga merupakan bentuk praktik kekafiran. Dan tentu saja, korupsi adalah salah satu bagiannya. Jadi, masihkan Anda mau korupsi?
Begitu juga bisa, kan?
Bisa pula kau akhiri kesimpulan artikelmu dengan sebuah quote atau puisi bahkan. Yang terpenting, apa pun itu, kudulah selaras dengan bagian analisamu tadi. Misal:
Rasanya, cukup telak untuk menandaskan ucapan bijak Einstein di sini bahwa “Ilmu tanpa agama hanya akan menjadi kebutaan dan agama tanpa ilmu hanya akan menjadi kelumpuhan.”
Banyak caranya, kan? Prinsipnya, kesimpulanmu harus selaras dengan analisamu.
1. Ide/Topik/Tema
Apa yang ingin kau tuliskan? Itulah idenya. Ide adalah “pokok hal” atau “pokok permasalahan” yang akan kau teliti dan tuliskan. Semakin tsakep idemu, semakin kerenlah tulisanmu. Karena itu, tulislah hanya ide-ide yang tsakep. Ciri ketsakepan sebuah ide ialah “aktual, bergreget, penting, memantik rasa ingin tahu pembaca”.
Misal. Sekarang lagi ramai tentang sosok Jokowi dan Prabowo sebagai calon presiden. Apa yang ingin kau tuliskan tentang mereka?
Lalu kau munculkan ide berdasar “pokok permasalahan”.
Jokowi atau Prabowokah Sang Pembasmi Koruptor?
Modal Militer Prabowo untuk Libas Korupsi
Watak Kesederhanaan Jokowi Ditakuti Para Koruptor
Ya, itu hanya beberapa contoh. Di dalamnya, ada pokok permasalahan yang akan kau teliti dan tuliskan, yakni “presiden dan pemberantasan korupsi”.
Lain lagi dengan ide yang berbasis “pokok hal”. Ide sejenis ini tidak berbasis “masalah”, tapi bersifat pengetahuan atau motivasi.
Misalnya:
Pentingnya Tahajjud untuk Mengundang Jodohmu
Bahagia Itu Sederhana, Santai Sajalah….
Agresi Israel ke Tanah Palestina
Korupsi dalam Kacamata Islam
Saat Kodifikasi Agama Jadi Kiblat
Pacaran itu Haram atau Tidak, Ya?
Mungkin, kalian yang tsakep akan bertanya di sini, lalu apa bedanya ide dengan judul?
Sering pula ide itu disebut topik atau tema lho. Pada intinya, ia adalah hal yang ingin kau teliti dan tuliskan. Otomatis, judul pun akan sesuai dengan ide itu, bukan? *Iya aja deh….*
Tentu nggak asyik jika topikmu, temamu, idemu tentang “korupsi adalah bagian dari kekufuran”, tapi judulmu ternyata nggak mencerminkan itu sama sekali. Maka, gampangnya, judul yang kau pilih kemudian boleh sama atau berbeda dengan idemu, asalkan tetap mewakili, mencerminkan idemu.
2. Data
Setelah dapat ide, kau harus kumpulin data. Bagus lagi, ide yang akan kau tuliskan sudah kau kuasai data dan keilmuannya. Sudah mendalami dan menguasainya.
Data yang kau pilih haruslah data yang akurat. Jangan data abal-abal tidak jelas juntrungnya.
Ciri data yang akurat itu ialah ilmiah, yang bisa dibuktikan dengan memiliki sumber rujukan yang jelas. Haram hukumnya menggunakan rujukan semaca “menurut sebuah penelitian” atau “katanya” atau “konon” atau…. Harus jelas menurut siapanya.
Bukankah mendapatkan kepastian itu sangat penting? Haaaa….
Misal kau dapat data dari sebuah buku atau artikel atau situs yang terpercaya (tentang situs-situs ini bertelitilah ya, sebab banyak sekali situs yang hanya bersifat propaganda, sama sekali tidak ilmiah). Ciri lainnya ialah ia banyak dikutip atau dipakai orang.
Ciri sebuah data patut diragukan keilmiahannya ialah “sensitif konflik” (ini jangan disamain dengan istilah polemik atau ikhtilaf ya). Hari gini, jangan mudah terprovokasi oleh “ke-wah-an” sebuah tulisan yang kesannya menggelegar. Lebih baik cari saja sumber-sumber data yang kredibel, lazim, popular, dan terpercaya.
Oh ya, saya tandaskan satu hal lagi di sini, bahwa ilmiah bukan berarti lalu tidak ditentang orang lho ya (sedunia setuju gitu). Yang terpenting ialah data yang kau kutip ialah data yang jelas sumbernya dan sumber itu sendiri (usahakan) tidak diragukan kapasitasnya.
Lantas, data yang kau ambil tidak perlulah sekarung gitu. Ambil data yang kau butuhkan saja sebagai penopang keilmiahan tulisanmu.
Ada data yang disebut data primer dan sekunder. Nah, data primer inilah yang harus kau pegang. Soal data sekunder sifatnya pelengkap dan penambahan belaka.
Data primer ialah data yang berkaitan langsung dengan ide yang akan kau tuliskan dan bersifat teori atau data besar. Jika tentang korupsi di Indonesia, sebutlah itu data berdasar KPK. Data sekundernya misal tentang ketidakadilan pembangunan di Indonesia Timur.
Dalam dunia akademik, data primer yang paling dihormati ialah buku, lalu jurnal, lalu media massa, lalu sumber online. Tapi dalam tulisan artikel, peta ini lebih longgar sih.
3. Pembukaan
Setiap artikel tentu harus memiliki bagian pembukaan dulu. Ia menjadi semacam pengantar terhadap ide yang akan kau ulas. Mau sekadar satu atau dua paragraf, ia harus ada.
Bentuk pembukaan yang keren ialah merangsang pembaca untuk melanjutkan membacanya. Ya, setelah judul yang bergreget, pastikan kalimat-kalimat pembukamu juga bertaji ya. Ia bisa dikemas dalam bentuk kutipan atau pertanyaan atau “provokasi” bahkan, dll.
Misal yang berbentuk kutipan:
Nyaris separuh penghuni bumi Indonesia ini masih didera kemiskinan, dan itu merupakan buah haram korupsi. Begitulah data riset terbaru yang dikeluarkan oleh LSM Belum Sempat Korupsi Juga (2014). *contoohhhhhh….
Bentuk pertanyaan:
Mau tahu berapa juta di tahun 2014 ini anak-anak Indonesia yang tidak tersingkir dari bangku sekolah hanya karena kemiskinan? Ya, kemiskinan yang ditebar oleh tangan-tangan kejam koruptor.
Apa benar pacaran itu haram sepenuhnya, tanpa pengecualiaan sedikit pun? Apa lantas juga berarti benar bahwa semua pelaku pacaran itu adalah para muslim sesat, sebagaimana dipekikkan oleh para pengusung fiqh serba subhanallah dan anti dialog itu? *ngoaahhaa…
Bentuk “provokasi”:
Inginkah Anda menjadi satu dari jutaan orang yang berdiam diri menyaksikan pemerkosaan-pemerkosaan terus menayang di depan mata? Masihkah Anda bertahan hati untuk duduk manis menyaksikan kenyataan kian maraknya kekejaman seksual, yang sebagiannya mulai mendera anak-anak tak berdosa itu?
Ya, ya, banyak lagi contoh model lainnya. Intinya, pembukaan haruslah menarik, memikat, dan “memaksa” pembacamu untuk melanjutkan membaca tulisanmu, bukan malah melipat, angop ngantuk, lalu lelap berbantal tulisanmu. Kalau sampai terjadi yang kedua ini, pertanda tulisanmu sukses menjadi pengantar tidur.
4. Analisa sistematis
Data yang sudah kau kumpulin selanjutnya harus kau kuasai sekaitan dengan idemu tadi. Inilah proses analisa.
Analisamu haruslah berjalan secara sistematis. Runut. Jangan lompat-lompat ke sana-sini tidak runtut. Sistematika adalah cerminan cara berpikirmu. State of mind-mu.
Dari bagian pembukaan, analisa, sampai penutup, harus kau jalinkan secara runtut, saling menunjang dan mendukung. Kagak lucu bingiiittt jika analisamu nggak sesuai dengan kesimpulanmu.
Itu sama persis dengan kau berkata, “Aku sayang kamu,” padahal kau tak pernah bertemu dengannya kecuali di sosmed dan BBM sehingga kau tidak pernah bisa menyediakan bahumu secara nyata untuk jadi sandarannya. Sayang macam apa coba yang begitu? Jawab….!!! Eaaakkkk…..haaaa….
Ya, sistematiskanlah cara berpikirmu, runtutkanlah, mengalir teratur, runut, agar analisamu tersaji dengan jernih dan enak.
Saran tambahan, buatlah kerangka tulisan untuk membantumu meruntutkan analisasmu. Misal, di bagian pembukaan, poin-poin apa yang ingin kau sajikan. Lalu di bagian pembahasan, kau kutip sebuah teori, dilanjutkan dengan data-data lapangan, dan dilanjutkan lagi dengan pendapatmu pribadi. Di bagian kesimpulan, kau tegaskan inti dari semua analisamu itu.
Ya, buat corat-coret saja seputar plot tulisanmu itu mau kayak apa. Ini pasti sangat membantu membuatmu fokus dan sistematis.
5. Kesimpulan
Tentu, artikel harus ada kesimpulannya. Kesimpulan di sini tidak melulu harus berupa solusi lho ya. Ia bisa bersifat penegasan teori, atau data lapangan, atau motivasi tertentu terkait ide tulisanmu.
Misal, idemu tentang “korupsi itu adalah salah satu bentuk kekufuran”. Maka kau bisa memungkasi tulisanmu dengan kesimpulan begini:
Sudah jelas sekali berdasar tuturan Sayyid Sabiq di atas, bahwa kafir bukan semata tentang ingkar tauhid. Berbuat kerusakan di muka bumi juga merupakan bentuk praktik kekafiran. Dan tentu saja, korupsi adalah salah satu bagiannya. Jadi, masihkan Anda mau korupsi?
Begitu juga bisa, kan?
Bisa pula kau akhiri kesimpulan artikelmu dengan sebuah quote atau puisi bahkan. Yang terpenting, apa pun itu, kudulah selaras dengan bagian analisamu tadi. Misal:
Rasanya, cukup telak untuk menandaskan ucapan bijak Einstein di sini bahwa “Ilmu tanpa agama hanya akan menjadi kebutaan dan agama tanpa ilmu hanya akan menjadi kelumpuhan.”
Banyak caranya, kan? Prinsipnya, kesimpulanmu harus selaras dengan analisamu.
Contoh Cerita Non Fiksi.
"My Bike Brings Me To Future ".
Masa kanak-kanak adalah masa dimana kita mulai belajar tentang kehidupan ini termasuk belajar bersepeda. Aku masih berusia 4 tahun ketika belajar bersepeda. Satu dua tiga ku kayuh sepeda kecilku itu tanpa rasa takut. Keceriaan dapat mengayuh sepeda untuk pertama kalinya membuatku tak melihat ada batu besar di depan sepedaku. Akibatnya aku terjatuh dari sepedaku dan darah keluar dari dagu bagian kananku. Aku tidak menangis karena rasa sakit daguku yang menghantam rem sepeda sampai membentuk cekungan tetapi aku menangis karena aku melihat banyak darah keluar dari sana dan kejadian itu tidak pernah menyurutkan tekadku untuk belajar bersepeda.
Tekadku untuk bersepeda tetap teguh sampai aku beranjak remaja. Ku kayuh sepeda pemberian ibuku menuju SMP N 3 Purworejo yang berjarak 10 km dari rumahku. Meskipun keringat membasahi seluruh tubuhku, aku tak pernah lelah mengayuh. Ku kayuh terus sepedaku melewati jalanan terjal, berliku, dan menanjak. Aku tak pernah mengeluh dan aku tidak pernah meminta untuk mengganti sepedaku dengan kendaraan bermotor karena sepeda mengajarkanku arti sebuah usaha, usaha untuk mencapai kesuksesan. Sepedaku pula yang mengantarkanku pada teman-teman terbaikku hingga aku beranjak SMA.
SMA dengan siswa-siswi yang penuh gengsi dan prestise tidak mempengaruhiku untuk berhenti bersepeda. Meski sepedaku mulai usang, tak apa bagiku untuk memakainya ke sekolah. Selain baik untuk kesehatan, setidaknya bersepeda bisa mengurangi emisi CO2 dan mengurangi biaya untuk beli bensin kan? Pemikiran-pemikiran seperti itu yang selalu aku tanamkan jika aku mulai goyah untuk tetap bersepeda. Selain itu sepeda selalu menemaniku kemana pun dan dengan siapa pun aku pergi termasuk dengan sahabatku, Rina. Setiap pulang dari sekolah, kami selalu melakukan touring kecil menggunakan sepedaku itu, entah hanya main ke bukit belakang sekolah ataupun hunting jajanan di alun-alun kota. Sampai kelulusan SMA dan sekarang pun sepedaku sangat berarti bagiku karena my bike brings me to future.
Friendship atau persahabatan adalah sesuatu hal yang penting di dalam hidup ini. Bukankah lebih baik hanya memilki satu teman tetapi tidak punya musuh daripada punya banyak teman tapi punya satu musuh. Gak gitu juga sih. Terkadang kita juga membutuhkan musuh agar hidup lebih berwarna tapi jangan banyak-banyak juga. Sudahlah lupakan soal itu. Sebenarnya disini aku ingin sedikit bercerita bgaaimana sih kita dapat melihat sahabat-sahabat kita.
Aku benar-benar baru merasakan arti penting sahabat baru-baru ini. Yah mungkin dulu aku menganggap sahabat hanya untuk di kala senang dan bercanda tawa, bersenang riang dan juga sebagai tempat saling curhat berbagai masalah. Just it. Dan aku benar-benar baru merasakan rasanya perhatian dan kasih sayang dari sahabat-sahabatku di sini.
Aku perkenalkan satu per satu yaaa. Yang pertama ada Fitria Slameut. Sebelumnya aku pengen minta maaf dulu ke Fitria soalnya pernah salah menyebut namanya di depan umum waktu presentasi PKM. Maaf ya Pit. Waktu aku sakit, Fitrialah yang paling menjaga asupan giziku serta mengatur waktu minum obatku. Padahal Fitria sebelumnya jarang masak tapi demi aku dia rela-relain masak tiap hari. Pokoknya dari nasi hingga sayur yang akan aku makan sehari itu disiapin sendiri oleh Fitria. Aku sangat terharu ketika Fitria merelakan waktunya yang seharusnya ia bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga ia justru gunakan untuk merawatku. Aku benar-benar merasa sedih melihat kontrakan yang semakin sepi tetapi Fitria tetap bersedia menemaniku. Bahkan ketika aku ada pengganti UP Penkom, dia bersedia mengantarku dan menemaniku hingga ternyata akhirnya UP Penkom diundur 1 hari. Di saat penantian keputusan tersebut aku menangis, bukan karena UP yang dibatalkan tetapi karena aku merasa bersalah kepada Fitria yang sudah menunggu lama untuk menemaniku UP ternyata akhirnya tidak dilaksanakan. Tubuhku sangat lemah, aku menjadi tidak nafsu makan tetapi Fitria selalu sabar dan bertanya kepadaku apa yang aku mau. Saat itu aku hanya ingin makan buah pisang dan segera setelah aku berkata demikian, Fitria langsung membelikakanku buah pisang.
Masa kanak-kanak adalah masa dimana kita mulai belajar tentang kehidupan ini termasuk belajar bersepeda. Aku masih berusia 4 tahun ketika belajar bersepeda. Satu dua tiga ku kayuh sepeda kecilku itu tanpa rasa takut. Keceriaan dapat mengayuh sepeda untuk pertama kalinya membuatku tak melihat ada batu besar di depan sepedaku. Akibatnya aku terjatuh dari sepedaku dan darah keluar dari dagu bagian kananku. Aku tidak menangis karena rasa sakit daguku yang menghantam rem sepeda sampai membentuk cekungan tetapi aku menangis karena aku melihat banyak darah keluar dari sana dan kejadian itu tidak pernah menyurutkan tekadku untuk belajar bersepeda.
Tekadku untuk bersepeda tetap teguh sampai aku beranjak remaja. Ku kayuh sepeda pemberian ibuku menuju SMP N 3 Purworejo yang berjarak 10 km dari rumahku. Meskipun keringat membasahi seluruh tubuhku, aku tak pernah lelah mengayuh. Ku kayuh terus sepedaku melewati jalanan terjal, berliku, dan menanjak. Aku tak pernah mengeluh dan aku tidak pernah meminta untuk mengganti sepedaku dengan kendaraan bermotor karena sepeda mengajarkanku arti sebuah usaha, usaha untuk mencapai kesuksesan. Sepedaku pula yang mengantarkanku pada teman-teman terbaikku hingga aku beranjak SMA.
SMA dengan siswa-siswi yang penuh gengsi dan prestise tidak mempengaruhiku untuk berhenti bersepeda. Meski sepedaku mulai usang, tak apa bagiku untuk memakainya ke sekolah. Selain baik untuk kesehatan, setidaknya bersepeda bisa mengurangi emisi CO2 dan mengurangi biaya untuk beli bensin kan? Pemikiran-pemikiran seperti itu yang selalu aku tanamkan jika aku mulai goyah untuk tetap bersepeda. Selain itu sepeda selalu menemaniku kemana pun dan dengan siapa pun aku pergi termasuk dengan sahabatku, Rina. Setiap pulang dari sekolah, kami selalu melakukan touring kecil menggunakan sepedaku itu, entah hanya main ke bukit belakang sekolah ataupun hunting jajanan di alun-alun kota. Sampai kelulusan SMA dan sekarang pun sepedaku sangat berarti bagiku karena my bike brings me to future.
Friendship atau persahabatan adalah sesuatu hal yang penting di dalam hidup ini. Bukankah lebih baik hanya memilki satu teman tetapi tidak punya musuh daripada punya banyak teman tapi punya satu musuh. Gak gitu juga sih. Terkadang kita juga membutuhkan musuh agar hidup lebih berwarna tapi jangan banyak-banyak juga. Sudahlah lupakan soal itu. Sebenarnya disini aku ingin sedikit bercerita bgaaimana sih kita dapat melihat sahabat-sahabat kita.
Aku benar-benar baru merasakan arti penting sahabat baru-baru ini. Yah mungkin dulu aku menganggap sahabat hanya untuk di kala senang dan bercanda tawa, bersenang riang dan juga sebagai tempat saling curhat berbagai masalah. Just it. Dan aku benar-benar baru merasakan rasanya perhatian dan kasih sayang dari sahabat-sahabatku di sini.
Aku perkenalkan satu per satu yaaa. Yang pertama ada Fitria Slameut. Sebelumnya aku pengen minta maaf dulu ke Fitria soalnya pernah salah menyebut namanya di depan umum waktu presentasi PKM. Maaf ya Pit. Waktu aku sakit, Fitrialah yang paling menjaga asupan giziku serta mengatur waktu minum obatku. Padahal Fitria sebelumnya jarang masak tapi demi aku dia rela-relain masak tiap hari. Pokoknya dari nasi hingga sayur yang akan aku makan sehari itu disiapin sendiri oleh Fitria. Aku sangat terharu ketika Fitria merelakan waktunya yang seharusnya ia bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga ia justru gunakan untuk merawatku. Aku benar-benar merasa sedih melihat kontrakan yang semakin sepi tetapi Fitria tetap bersedia menemaniku. Bahkan ketika aku ada pengganti UP Penkom, dia bersedia mengantarku dan menemaniku hingga ternyata akhirnya UP Penkom diundur 1 hari. Di saat penantian keputusan tersebut aku menangis, bukan karena UP yang dibatalkan tetapi karena aku merasa bersalah kepada Fitria yang sudah menunggu lama untuk menemaniku UP ternyata akhirnya tidak dilaksanakan. Tubuhku sangat lemah, aku menjadi tidak nafsu makan tetapi Fitria selalu sabar dan bertanya kepadaku apa yang aku mau. Saat itu aku hanya ingin makan buah pisang dan segera setelah aku berkata demikian, Fitria langsung membelikakanku buah pisang.
Aku semakin merasa sedih dan bersalah, makanya aku menitikkan air mata di ruang BEM A waktu itu. Yang terakhir ketika Fitria mengantarkanku pergi ke terminal. Aku masih sangat ingat ketika Fitria bercerita bagaimana ia pulang ke rumahnya di Cianjur. Aku ingat sekali Fitria mengatakan bahwa ia kalau pulang melalui jalan baru. Kemudian di jalan baru itulah ia menunggu bis yang menuju Puncak Cianjur. Aku ingat sekali perkataan itu tetapi Fitria menyangkal kalau ia pulang lewat jalan baru. Ia hanya mengaku bahwa kalau ia pulang ia harus ke baranangsiang dahulu. Aku tahu ia berbohong. Ia sengaja seperti itu agar ia dapat menemaniku hingga aku masuk ke dalam bis yang aku tumpangi sampai ke rumah. Aku kembali merasa sedih dan bersalah kepadanya. Seharusnya ia bisa sampai rumah lebih awal jika ia tidak menemaniku hingga aku duduk di dalam bisku. Tapi seperti biasa ia tetap memilih untuk menemaniku. Terima kasih banyak sahabatku. Aku tak tahu harus bagaimana untuk mengucapkan terima kasih kepadamu.
Sahabatku yang kedua ini orangnya selalu bikin ketawa dan benar-benar sangat perhatian kepadaku. Namanya Nopionna. Seperti yang sebelumnya kukatakan, sahabatku yang satu ini kocak dan selalu membuatku dan Fitria selalu tertawa. Tetapi terkadang ia sangat serius dan terlihat cool tetapi itu hanyalah sementara karena memang wajahnya yang selalu ceria. dan lucu. Tau gak demi aku dia rela lho buat mundurin jadwal kepulangannya. Padahal aku tau banget waktu tanggal 17 itu dia udah packing dengan tasnya. Aku udah liat. Bahkan aku udah mau nanyain kapan Nopi pulang? Tapi ternyata melihat kondisiku yang lemah tak berdaya (lebay) dia mengurungkan niatnya untuk pulang dan menemaniku di kontrakan. Aku semakin terharu dengan sikap kedua sahabatku ini. Tanpa sepengetahuan mereka aku sering menangis dimalam hari ketika aku teringat kebaikan-kebaikan yang telah mereka berikan kepadaku tetapi aku tidak bisa membalasnya. Setiap saat nopi selalu menanyakan kondisiku. apakah sudah membaik atau belum. Essy butuh apa nanti nopi yang beliin. Semua itu membuatku ingin selalu menangis. Ketika nopi yang gak diduga-duga mencucikan bajuku sampai-sampai ia rela meng”kerok”i aku padahal dia bener-bener alergi sama bau minyak kayu putih. Tapi dia benar-benar meng”kerok”i aku sampai selesai. Aku yang awalnya mau bertanya mengurungkan niatku dan terdiam dalam kerokan nopi. Kemudian ketika nopi yang juga menemaniku menunggu keputusan pelaksanaan UP dari jam 09.00 hingga jam 13.00 yang akhirnya diputuskan bahwa UP diundur hingga besok. Aku sedih karena merasa pengorbanan temanku sia-sia. Sungguh saat itu aku sangat sedih. Tapi kedua sahabatku ini selalu bisa menghiburku apalagi dengan tingkah laku lucunya nopionna.
Ada lagi sahabatku yang namanya Istiq sama Elis. Saat aku masih belum terlalu parah bahkan mereka mengunjungiku dan memberikanku semangkuk bubur kacang hijau hangat dan juga coklat silverqueen dari istiq. Kemudiaan tanpa bantuan mbak Isti mungkin sampai aku pulang aku tidak mendapatkan pengobatan yang semestinya. Kemudian support dari Dinar, Umi, Nune, Arbay, Istiq, Elis, Mbak Isti, Mb Anik, Ka Teki, Ka Tatang, Ka Maw, Ka Junjun, Ka Dani, Ka Andri, Ka Afif, Ka Septian, Ikrom, Mb Vita, Mb Lusia, Mb Rusty, Mb Ayun, Mb Kiky, Deny, Mey, Arly, sampai ke adik-adik forces 10, tanpa doa dan semangat dari kalian mungkin aku gak akan pulih secepat ini. Terima kasih banyak semuanya.
Sahabatku yang kedua ini orangnya selalu bikin ketawa dan benar-benar sangat perhatian kepadaku. Namanya Nopionna. Seperti yang sebelumnya kukatakan, sahabatku yang satu ini kocak dan selalu membuatku dan Fitria selalu tertawa. Tetapi terkadang ia sangat serius dan terlihat cool tetapi itu hanyalah sementara karena memang wajahnya yang selalu ceria. dan lucu. Tau gak demi aku dia rela lho buat mundurin jadwal kepulangannya. Padahal aku tau banget waktu tanggal 17 itu dia udah packing dengan tasnya. Aku udah liat. Bahkan aku udah mau nanyain kapan Nopi pulang? Tapi ternyata melihat kondisiku yang lemah tak berdaya (lebay) dia mengurungkan niatnya untuk pulang dan menemaniku di kontrakan. Aku semakin terharu dengan sikap kedua sahabatku ini. Tanpa sepengetahuan mereka aku sering menangis dimalam hari ketika aku teringat kebaikan-kebaikan yang telah mereka berikan kepadaku tetapi aku tidak bisa membalasnya. Setiap saat nopi selalu menanyakan kondisiku. apakah sudah membaik atau belum. Essy butuh apa nanti nopi yang beliin. Semua itu membuatku ingin selalu menangis. Ketika nopi yang gak diduga-duga mencucikan bajuku sampai-sampai ia rela meng”kerok”i aku padahal dia bener-bener alergi sama bau minyak kayu putih. Tapi dia benar-benar meng”kerok”i aku sampai selesai. Aku yang awalnya mau bertanya mengurungkan niatku dan terdiam dalam kerokan nopi. Kemudian ketika nopi yang juga menemaniku menunggu keputusan pelaksanaan UP dari jam 09.00 hingga jam 13.00 yang akhirnya diputuskan bahwa UP diundur hingga besok. Aku sedih karena merasa pengorbanan temanku sia-sia. Sungguh saat itu aku sangat sedih. Tapi kedua sahabatku ini selalu bisa menghiburku apalagi dengan tingkah laku lucunya nopionna.
Ada lagi sahabatku yang namanya Istiq sama Elis. Saat aku masih belum terlalu parah bahkan mereka mengunjungiku dan memberikanku semangkuk bubur kacang hijau hangat dan juga coklat silverqueen dari istiq. Kemudiaan tanpa bantuan mbak Isti mungkin sampai aku pulang aku tidak mendapatkan pengobatan yang semestinya. Kemudian support dari Dinar, Umi, Nune, Arbay, Istiq, Elis, Mbak Isti, Mb Anik, Ka Teki, Ka Tatang, Ka Maw, Ka Junjun, Ka Dani, Ka Andri, Ka Afif, Ka Septian, Ikrom, Mb Vita, Mb Lusia, Mb Rusty, Mb Ayun, Mb Kiky, Deny, Mey, Arly, sampai ke adik-adik forces 10, tanpa doa dan semangat dari kalian mungkin aku gak akan pulih secepat ini. Terima kasih banyak semuanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar